BELAJAR DARI COVID-19 (Kebiasaan Makan dan Minum)

        Saat saya terbangun dari tidur, jam dinding menunjukkan masih pukul 03.00 pagi. Udara pun masih terasa menusuk tulang. Kipas angin masih menyala, menyapu wajah anak-anak yang masih tertidur lelap. Saya melangkahkan kaki turun dari dipan untuk mematikan kipas dan menuju ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan rutinitas ibadah pagi, saya mencoba menuangkan ide dalam rangkaian kata yang sejak semalam saya rasakan. Teringat kata-kata senior yang eksis dalam menulis
Menulis bukanlah tentang apa yang kita pikirkan, tetapi menulis adalah tentang apa yang kita rasakan
        Beberapa hari ini, saya merasakan bahwa harus ada sebuah tulisan yang mengingatkan orang-orang tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan kehadiran Covid-19. Satu-satu pemicu penyebaran Covid-19 bukan hanya karena kurangnya kedisiplinan kita dalam menjalankan protokol kesehatan. Ada beberapa hal yang menjadi pemicu dalam keluarga kita jika ternyata salah satu anggota keluarga menjadi salah satu OTG (Orang Tanpa Gejala). Jika pada awal ada gejala batuk/pilek, ada kemungkinan kita langsung menjaga diri dengan tertib memakai masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak dengan orang-orang yang kita sayangi dalam rangka menjaga semua orang. Berbeda ketika ada OTG di dalam rumah kita. Sosok ini mungkin tidak menyadari bahwa di dalam tubuhnya ada makhluk kecil bernama Covid-19 yang sedang mencari sasaran baru. Dia akan mudah berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain tanpa ada yang menyadari keberadaannya. Media yang mungkin dapat ia gunakan untuk dapat berpindah yaitu dengan kebiasaan/tata cara kita makan. Atau melalui alat makan kita yang terkena droplet. 
        Ijinkan saya, bukan sebagai ahli kesehatan atau yang terkait di bidang kesehatan, untuk berbagi dan mengingatkan tentang kebiasaan makan yang mengalami pergeseran tata cara/kebiasaan. Saya hanya seorang ibu yang mencoba mencermati apa yang sebenarnya Covid-19 ajarkan kepada manusia.
        Kasus 1 Seorang ibu bercerita kepada saya. Dia merasa sedih anaknya susah untuk disuruh makan ketika sudah memegang HP. Alasan memegang HP mungkin karena harus mengikuti kegiatan video conference dengan gurunya atau sedang belajar mandiri atau sedang main game online. Ketika sang ibu sudah tidak sabar lagi menunggu sang anak, maka saat ibu makan dia mendekati anaknya dan sekaligus menyuapkan nasi ke mulut sang anak. Kata sang ibu sisan (sekalian jalan satu dua perut terisi. Tujuan tercapai, cara salah. Seharusnya ibu memberikan pemahaman yang benar tentang kebutuhan makan/minum bagi tubuh dan resiko yang dialami jika hak tubuh tidak dipenuhi. Jika masih belum mau melepaskan HP-nya, maka harus ada komitmen antara orang tua dan anak terkait dengan jadwal penggunaan HP. Jika ibu mengambil jalan pintas seperti Kasus 1 bukan hanya segi kesehatan yang akan mendapat masalah, namun proses pendewasaan anak tentang kemandirian pun akan terhambat. 
        Kasus 2 Sebuah keluarga yang biasa menggunakan fasilitas bersama terutama alat makan atau minum. Seorang ibu yang tertib akan mengajarkan anaknya untuk selalu menggunakan alat makan atau minum secara terpisah. Mungkin ini agak sedikit merepotkan. Namun hal ini akan sangat baik untuk perkembangan anak di masa yang akan datang. Anak tidak akan suka makan barengan /bersama teman yang lain dalam satu wadah. Dia akan lebih memilih tidak ikut makan daripada harus bergantian sendok dengan temannya. Jika kemampuan anak tentang kedua hal ini dapat dilakukan. kita dapat melanjutkan dengan membimbingnya untuk dapat membersihkan alat makan dan minumnya sendiri. Setelah makan/minum langsung dicuci sendiri. Dapur yang bersih akan lebih sedap dipandang mata. 

Adab makan dan Minum yang benar 

        Covid-19 sedang menajarkan kita untuk mengoreksi tata cara/kebiasaan makan yang baik. Mohon maaf apabila dalam menyajikan pembahasan ini masih banyak kekeliruan dan ada kata yang menyakitkan. Semoga bermanfaat dan mari kita sharing bersama terutama tentang konten yang saya sajikan.

Comments

Post a Comment